Monday, 12 December 2016

Resensi Harry Potter and The Cursed Child

Judul Buku       : Harry Potter and The Cursed Child (Naskah Drama Bahasa Inggris)
Penulis              : JK Rowling, John Tiffany, Jack Thorne
Penerbit            : Little Brown, London
Jumlah Halaman: 343 halaman
Harga               : Rp 405.000

Pertama kali menikmati naskah drama “Harry Potter and The Cursed Child”, saya kembali merasa takjub dengan kembalinya Harry Potter. Tektok dialog bernas dan tepat sasaran. Adegan demi adegan menimbulkan ketegangan. Konflik antar tokoh utama yang meruncing dan membuat tercekat. Twist demi twist di tiap akhir babak tak henti membuat kaget. Yang paling utama, pesan cerita tetap sarat makna dan membuat mata berkaca. Tentang hubungan ayah-anak dan efek berantai mengubah masa lalu.


            Tokoh utama dalam drama ini adalah Albus Severus Potter, anak kedua Harry Potter yang merasa tersisih dan tidak nyaman dengan nama besar ayahnya. Demi sebuah pembuktian, Albus berusaha mencegah Cedric Diggory terbunuh dalam turnamen Triwizard. Bersama Scorpius Malfoy, teman satu asrama Slytherin, Albus nekat mencuri pembalik-waktu di kantor Kementrian Sihir. Saat saya mengulang kembali naskah drama 300 halaman ini dari awal, mulai bermunculan pertanyaan-pertanyaan mengenai hubungan sebab akibat cerita. Ada beberapa proses sebab akibat yang tidak masuk akal.
            Mengapa Hermione yang cerdas dan disiplin, begitu ceroboh menyimpan pembalik-waktu dalam rak buku? Bukankah dia tahu benda sihir yang banyak diincar, termasuk batu bertuah di novel 1, perlu dijaga oleh minimal 7 mantra penyihir hebat? Dalam drama ini, Hermione hanya menjaga pembalik-waktu dengan teka-teki yang bisa dipecahkan oleh Scorpius. Bahkan cara menyelundup Albus, Scorpius, dan Delphi ke kantor Hermione di Kementrian Sihir begitu mudah.
Terlihat upaya keras penulis naskah menyiasati durasi waktu dan membatasi jumlah tokoh. Namun, pembaca Harry Potter biasa menikmati novel dengan deskripsi hidup dan proses detail sebab akibat yang ditulis JK Rowling. Saat novel Harry Potter dibuatkan filmnya, penonton tidak ambil pusing dengan adegan yang dipangkas karena terbatasnya durasi waktu. Sebab penonton sudah tahu cerita utuh dari novel. Dalam naskah drama ini, ketidakdetailan adegan, menjadi masalah karena novel “The Cursed Child” tidak terbit. Masalah sebab akibat yang patah, lama-lama menganggu pikiran.
            Memang naskah drama seharusnya hanya menjadi panduan untuk para pemain panggung. Bukan untuk dibaca publik. Masyarakat harus menonton drama teaternya langsung untuk menikmati kemegahan seting, kostum, dan trik panggung. Dengan kemegahan panggung, penonton akan melupakan alur-alur yang patah.
            Kejanggalan lain tentang tokoh Snape yang tetap hidup di kehidupan alternatif saat dunia sekarang dikuasai Voldemort, Harry Potter sudah mati 22 tahun sebelumnya di Perang Hogwards, dan Hermione bersama Ron menjadi buronan kementrian sihir nomor satu. Voldemort membiarkan Snape hidup seakan-akan tidak peduli siapa penguasa tongkat sihir Elder. Padahal Voldemort selalu ingin menguasai segala-galanya. 
            Memang adegan diatas dibuat semata untuk menimbulkan ketegangan. Namun sentuhan tangan JK Rowling ada yang kurang. JK Rowling selalu berhati-hati dan cermat menata kronologi adegan dan sebab akibat ceritanya. Bahkan, sebelum menulis seri pertama Harry Potter, JK Rowling telah menata karakterisasi tokoh, gambaran seting, dan tabel plot 7 seri, selama lima tahun hingga lengkap. Tak heran ketujuh seri Harry Potter sangat utuh, berkaitan, minim patahan alur yang mencolok. Dengan komplesitas plot dan kedetailannya menulis, novel JK Rowling tebalnya berkisar 400-700 halaman. Dalam drama ini, membangun dunia Harry Potter baru dengan permasalahannya dengan sang anak, sepertinya butuh kerja sangat keras.
“The Cursed Child” memang sama sekali baru dan digagas oleh Jack Thorne dan John Tiffany. JK Rowling masuk ke dalam proyek besar ini sebagai penasehat dan penambah plot. John Tiffany mengambil seting 19-22 tahun setelah buku ketujuh tamat. Dan ada beberapa hubungan antar kejadian lampau dan baru yang sulit dibuat presisi pas-nya. Karena saat menamatkan buku ketujuh, Rowling tidak kepikiran membuat lanjutannya. Contohnya saja tokoh Delphi yang sama sekali baru di naskah drama ini.  Kelahiran Delphi di masa-masa chaos seri ketujuh, sulit dipahami, kecuali dijadikan kegaduhan dalam drama.
Untungnya, naskah drama ini masih mempertahankan ciri khas serial Harry Potter. Yaitu mengusung tema kebaikan menumpas kejahatan. Permasalahan yang mencuat karena sebuah ramalan, meskipun toh, siapa pembuat ramalan tidak disebutkan. Serta keberadaan penjahat yang dibungkus rapi sampai saatnya dimunculkan. Kerja tim yang (nyaris) sempurna.(*)


Baca juga ide cerita ini:
Cerber Petualangan Torei 01-02

Baca juga Resensi ini:

Baca juga cerpen dan dongeng ini:

1 comment:

fifadila dila said...

Next will be Newt Scamander...